Sejarah Desa Kamoneng


        Asal usul nama Desa Kemoning berasal dari tiga kata yaitu “akemah”, “moni” dan “kenneng”. Pada zaman dahulu, Desa Kemoning masih berupa hutan lebat dengan pohon-pohon yang sangat besar. Tidak ada yang berani menebang pohon-pohon tersebut untuk dijadikan sebagai area pemukiman, sampai di sekitar hutan mulai bermunculan pemukiman penduduk.
Pada suatu hari ada seorang panglima beserta para prajuritnya yang berasal dari kerajaan Bangkalan sedang ber”kemah” di hutan tersebut. Di hutan itu tinggal seseorang yang bisa dibilang sakti tetapi tidak memiliki watak yang baik. Ia terkenal akan kejahatan dan juga akal liciknya. Pada saat panglima beserta para prajuritnya sedang beristirahat dan berniat untuk berkemah di hutan tersebut, datanglah penghuni hutan yang sakti itu hendak mengambil harta benda yang dibawa oleh panglima dan para prajuritnya. Namun, panglima beserta para prajuritnya tidak menginginkan terjadi pertarungan sehingga memilih memberikan harta benda yang mereka miliki. Sang penghuni hutan yang sakti itu pun merasa bahwa bukan ini yang ia inginkan, sehingga berniat mengembalikan harta tersebut dengan sebuah syarat. Penghuni hutan yang sakti itu memberi sebuah tantangan kepada panglima beserta para prajurutnya. Penghuni hutan berkata “Ayo kita bertarung, kalau saya kalah saya akan mengabdi kepada anda dan anda boleh menetap disini. Kalau anda kalah, silahkan pergi dari hutan ini”. Panglima pun menerima tantangan itu.
Pertarungan pun berlangsung sengit, masing-masing berusaha agar berhasil mengalahkan lawan. Namun, ternyata penghuni hutan tersebut kalah dan ia menepati janjinya dengan meninggalkan hutan dan menjadi harus mengabdi kepada panglima. Setelah itu, penghuni hutan yang sakti itu berguru kepada panglima kerajaan Bangkalan. Ketika kembali ke kerajaan, panglima beserta prajuritnya mendapatkan musibah yang tidak bisa menemukan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian, sang panglima teringat dengan penghuni hutan sakti yang pernah ia kalahkan. Panglima meminta kepada prajuritnya agar memanggil orang tersebut untuk mengatasi masalah yang terjadi. Dengan mudahnya penghuni hutan mengatasi masalah tersebut dan setiap ada masalah selalu memanggil penghuni hutan sakti tersebut, sehingga bisa dikatakan dalam bahasa madura “ekenneng” “anggui”.
           Akhirnya panglima kerajaan dan juga penghuni hutan tersebut menamakan tempat tinggal meraka “Kemoning”, yaitu gabungan dari tiga kata “akemah” pohon “moni” dan “kenneng”/anggui (diperlukan). Jadi, tempat ini menjadi tempat tinggal dan ladang untuk bercocok tanam, karena jenis kayu di hutan tersebut sangat besar-besar. Maka setelah dibabat dan menjadi desa, kemudian desa itu dinamakan “Desa Kemoning”.

Komentar