SEJARAH DESA KEMONENG

SEJARAH DESA KEMONENG


Desa Kemoneng
Dahulu, Desa Kemoneng masih berupa hutan lebat dengan pohon-pohon yang sangat besar. Hingga pada suatu ketika ada seorang panglima beserta para prajuritnya yang berasal dari kerajaan Bangkalan sedang ber”kemah” di hutan tersebut. Di hutan itu tinggal seseorang yang bisa dibilang sakti tetapi tidak memiliki watak yang baik. Ia terkenal akan kejahatan dan juga akal liciknya. Pada saat panglima beserta para prajuritnya sedang beristirahat dan berniat untuk berkemah di hutan tersebut, datanglah penghuni hutan yang sakti itu hendak mengambil harta benda yang dibawa oleh panglima dan para prajuritnya. Namun, panglima beserta para prajuritnya tidak menginginkan terjadi pertarungan sehingga memilih memberikan harta benda yang mereka miliki. Sang penghuni hutan yang sakti itu pun merasa bahwa bukan ini yang ia inginkan, sehingga berniat mengembalikan harta tersebut dengan sebuah tantangan kepada panglima beserta para prajurutnya.
Penghuni hutan berkata “Ayo kita bertarung, kalau saya kalah saya akan mengabdi kepada anda dan anda boleh menetap disini. Kalau anda kalah, silahkan pergi dari hutan ini”. Panglima pun menerima tantangan itu.
Selanjutnya seorang panglima bertarung dengan penghuni hutan tiba-tiba penghuni hutan tersebut kalah dan dia menepati janjinya yang dia ucapkan sebelum bertarung. Setelah itu penghuni hutan tersebut berguru kepada panglima kerajaan, dan ketika kembali ke kerajaannya panglima beserta prajuritnya mendapatkan musibah yang tidak menemui solusi yang tepat. Kemudian panglima menyuruh prajuritnya untuk memanggil penghuni hutan untuk mengatasi masalah mereka. Dengan mudahnya seorang penghuni hutan mengatasi masalah tersebut dan setiap ada masalah panglima kerajaan selalu memanggil penghuni hutan untuk mengatasinya.
Akhirnya panglima kerajaan dan juga semua penghuni hutan tersebut menamakan tempat tinggal meraka Kemoneng, dengan gabungan 3 kata yang mempunyai maksut “Akemah” pohon “Moni” dan “Kenneng” anggui (diperlukan) jadi tempat ini menjadi tempat tinggal dan ladang untuk bercocok tanam.

Penulis : TIM KKN 108 UTM

Komentar